cerita inspirasi diri sendiri

NAMA                                    :  FIKA FATIA QANDHI
NIM                                        :  I34100132
LASKAR                                :  23

Keluargaku termasuk keluarga yang mengutamakan pendidikan, melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi adalah suatu keharusan. Itu telah terpatri dalam
jiwaku sebagai anak. Inilah cerita inspirasiku. Waktu itu, sebulan sebelum ujian
nasional aku mengikuti tes yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi
terbaik yang ada di Indonesia, dengan semangat yang luar biasa aku mempersiapkan
segala sesuatunya dengan sangat baik. Saat itu aku memilih jurusan kedokteran,
jujur itu adalah pilihan kedua orang tuaku, namun lambat laut aku juga begitu
mencintai jurusan tersebut.  Tak lama setelah sebulan yang lalu aku mendaftar ,
datanglah hari yang sangat menegangkan bagiku. Entah perasaan apa yang
bermanuver di dalam dadaku pada saat itu, yang aku ingat aku panik melihat
kenyataan yang sangat berbeda dari bayanganku. Saat itu aku merasa soal-soal itu
adalah singa yang siap menerkamku, waktu yang begitu cepat siap menebasku. Aku
benar-benar serupa orang yang tak berdaya.

Hanya satu hal yang terlintas di kepalaku saat itu, ayah. Wajah ayah terus
menari nari dalam ingatanku. Mengingat perjuangan ayah ingin rasanya aku
menangis. Tapi aku tak ingin kalah dengan keadaan, aku terus berjuang dengan
kemampuanku yang tak seberapa itu. Tak seperti kebanyakan orang yang
menanti-nantikan hari pengumuman, aku justru sebaliknya. Ternyata dugaanku
benar. Aku gagal. Beruntung aku memiliki keluarga yang terus memotivasiku. Aku
terus belajar, belajar dan belajar. Satu hal pelajaran yang dapat aku tarik dari
kegagalan waktu itu, yaitu ketenangan di saat menghadapi apapun sangat penting.

Tak lama berselang waktu, untuk kedua kalinya aku mencoba lagi. Kembali
mengikuti ujian masuk salah satu perguruan tinggi dengan jurusan yang sama.
Belajar dari pengalaman aku mencoba untuk setenang mungkin menyelesaikan
soal-soal. Alhamdulilah saat itu aku berhasil melakukannya dengan tenang.
Beberapa minggu berlalu, seorang teman mengabarkan bahwa hasil telah diumumkan
lebih awal dari waktu yang sebenarnya. Aku mencoba untuk tetap optimis, apapun
hasilnya. Namun alhasil, untuk kedua kalinya aku kembali gagal. Tapi itu tidak
membuatku patah arang.
Selepas lulus SMA, aku mencoba mendaftarkan diriku di salah satu bimbingan
belajar. Tiada hari kulewati tanpa membahas soal-soal. Semangatku berapi-api.
Pagi hingga sore aku menghabiskan waktuku di bimbingan belajar tersebut. Tak
bosan-bosan aku melatih kemampuanku. Setelah dua minggu mengikuti biimbel
tersebut aku kembali mendaftarkan diri untuk mengikuti tes masuk perguruan
tinggi. Untuk ketiga kalinya aku tetap mencoba memilih di jurusan yang sama.
Berbeda dengan tes pertama dan kedua, kali ini aku lebih percaya diri dan lebih
tenang menjawab soal-soal, sama sekali tak ada beban di pikiranku. Telah aku
tanggalkan segala beban itu jauh hari sebelum aku mengikuti ujian.

Hari yang dinanti pun tiba, yaitu hari pengumuman. Namun apalah daya, aku
kembali mendapati diriku gagal untuk ketiga kalinya. Sempat pada saat itu aku
begitu kecewa pada diriku. Satu hal yang tidak kusukai, aku harus mengabarkan
kegagalanku yang ketiga kalinya kepada ayah dan ibu. Begitu berat. Karena aku
begitu kecewa, malam itu kuurungkan niatku untuk tidur. Semalam suntuk aku
kembali membahas soal-soal dan mengulang materi-materi ujian sembari
menginstropeksi diri. Hingga akhirnya aku tertidur.
Beruntung keesokan harinya, aku telah mengubur dalam-dalam kegagalanku sebagai
semangat untuk menjalani hari ini,esok dan seterusnya. Dengan langkah pasti aku
kembali menjalani rutinitasku. Pertemuanku dengan teman-teman seperjuangan dan
kakak-kakak tentor pagi itu membuatku  semakin semangat untuk mempersiapkan diri
mengikuti ujian SNMPTN. Kami semua saling mendukung. Mereka semua telah aku
anggap sebagai keluargaku sendiri. Canda tawa mereka telah menawarkan obat dari
rasa kecewaku.
Saat mendaftar SNMPTN, bimbingan belajar menawarkanku jurusan berdasarkan
evaluasi belajarku selama ini. Untuk pilihan pertama aku sendiri yang
menentukannya, aku masih tetap pantang menyerah, tetap kekeh ingin di jurusan
kedokteran. Satu tekadku, ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Meski aku pun
tau orang tuaku tak pernah memaksaku dengan tekanan apapun untuk harus lulus di
jurusan tersebut. Tapi tidak ada yang membuatku lebih bahagia ketika aku melihat
kedua orang tuaku bahagia.

Berdasarkan hasil evaluasi, bimbingan belajar menawarkanku jurusan sains
komunikasi dan pengembangan masyarakat IPB. Jurusan yang tak terlintas di
benakku selama ini. Namun, ada sedikit rasa ketertarikan tersirat  dalam hatiku.
Tanpa berpikir panjang aku langsung memutuskan pilihan kedua ku di IPB. Hari
berganti begitu cepat. Seolah mengerti kekalutanku. Hari ujian pun tiba. Aku
mengerahkan segenap kemampuanku, selebihnya aku pasrahkan pada Yang Maha Kuasa.
Kini satu hal lagi, hari pengumuman.

Sebulan berlalu, hari itu pun tiba, dengan sebuah harapan dan doa, dengan
mengucap basmallah berulang kali, aku mulai memasukkan nomor pesertaku di
website resmi SNMPTN. Klik. “selamat FIKA FATIA QANDHI diterima di jurusan
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB”. Aku tak percaya, aku coba
memasukkan kembali nomor pesertaku. Mungkin sebanyak tujuh kali aku
mengulangnya. Ternyata benar “AKU LULUS”. Berulang kali aku mengucap syukur. Ada
rasa kepuasan yang luar biasa bergemuruh di dadaku. Kedua orang tuaku tersenyum
bahagia. Walau sebenarnya aku tidak diterima di pilihan pertamaku, tapi aku
tidak berkecil hati.
Dari peristiwa ini aku memetik sebuah pelajaran berharga, aku kutip dari sebuah
kata bijak “Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Allah
memberikan apa yang kita butuhkan”. Ya, aku yakin, Insya Allah ini yang terbaik
untukku, Insya Allah jurusan ini akan mengantarkanku pada cita-cita sejatiku.
Demi tuhanku, agamaku, bangsaku, rakyat Indonesia, keluargaku dan seluruh
saudara seperjuangan aku akan memulai perjuangan baru di IPB tercinta. Inilah
yang sebenarnya yang aku butuhkan. SEMANGAT!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita inspirasi orang lain

NAMA                        :  FIKA FATIA QANDHI
NRP                            : 134100132
LASKAR                    :  23

Tsunami telah meluluhlantakan daerah serambi Mekah, begitu banyak
jiwa manusia terenggut. Lautan telah memuntahkan segala isinya dan mengamuk
sejadi-jadinya. Hanya Allah Yang Maha Tahu apakah peristiwa maha dahsyat
tersebut cobaan atau musibah. Begitu banyak  nyawa jiwa yang hilang, namun tak
sedikit pula yang  selamat melalui berbagai pertolongan Allah. Begitu pula
dengan nasib yang menimpa dua anak manusia yang selamat melalui tangan-tangan
Allah. Ia bersama adik kandungnya selamat dari peristiwa maha dahsyat tersebut.
Namun, kini keadaan telah berubah, mereka telah yatim piatu.
Selepas tsunami, salah satu diantara mereka mengalami trauma yang
cukup berat. Beruntung mereka masih memiliki kakak kandung yang sedang
melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi terbaik yang ada di Bandung.
Mereka memutuskan untuk menetap di Jakarta untuk sementara waktu. Salah satu
diantara mereka menjalani terapi penyembuhan untuk memulihkan kembali mental dan
jiwa yang benar-benar rapuh saat itu. Sementara itu, sang adik tetap melanjutkan
pendidikan SMA-nya di Jakarta. Tidak ada kata untuk menyerah. Mereka terus
berjuang. Walaupun saat itu kuliah kakak sulung mereka sempat berantakan  akibat
kompleksnya permasalahan yang sedang menimpa mereka. Namun, semangat hidup
mereka tak pernah padam dibakar api cobaan. Mereka bukanlah orang yang pasrah
pada nasib, mereka terus berusah untuk bangkit dari keterpurukan yang menimpa
mereka.
Beberapa tahun kemudian, mereka semua telah berhasil bangkit. Kakak
suluing mereka telah menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana.
Kemudian yang menjalani terapi penyembuhan telah kembali normal. Dan si bungsu
telah menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Setelah mereka merasa cukup untuk menata
kembali hati,jiwa, raga dan pikiran di tanah rencong tercinta, merekapun
memutuskan untuk pulang ke aceh. Walau kini mereka harus menerima kenyataan
tanpa kedua orang tua lagi di sisi mereka. Tiada lagi ibu yang menghidangkan
sarapan pagi untuk anak-anaknya. Tiada lagi suara ayah terngiang memberikan
nasihat-nasihatnya. Tiada lagi kedua orang tua yang memperhatikan kondisi
mereka. Tiada lagi terdengar suara merdu sang ibu ketika melantunkan ayat suci
Alquran dan rintihan doa sang ibu di setiap sholatnya yang selalu dengan penuh
harap mendoakan anak-anak tercinta. Namun, sekali lagi ku tegaskan itu semua
tidak membuat semangat mereka redup. Segenap kekuatan mereka kumpulkan untuk
kembali menata hidup. Setibanya di Aceh, Alhamdulillah kakak sulung mereka tidah
perlu menunggu waktu lama untuk mendapat pekerjaan. Jadilah ia sebagai tulang
punggung keluarga saat itu. Dengan segala keterbatasan, kedua adiknya tetap
melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana di salah satu perguruan tinggi negeri
yang ada di Banda Aceh. Satu hal lagi yang aku kagumi dari mereka, kedua adiknya
tidak pernah mau berpangku tangan.  Mereka kerja paruh waktu. Begitulah
keseharian mereka, bekerja, belajar, bekerja dan belajar.
Tak sedikit pun mereka mengeluh dengan kondisi mereka. Mereka telah
memulai semuanya dari nol. Akhirnya, sesuatu yang sangat dinanti-nantikan oleh
kakak sulung pun tiba, yaitu melihat kedua adiknya mengenakan baju toga, dengan
baju kebanggaan itulah ia menyaksikan kedua adik kebanggannya  diwisuda. Ada
perasaan bangga sekaligus haru yang melebur di ruangan yang penuh dengan senyum
bahagia tersebut. Satu langkah telah berhasil kembali mereka wujudkan. Akhirnya
dengan segenap ketekunan dan keuletan kini mereka telah berhasil membuka usaha
sendiri dari hasil kerja keras mereka selama ini. Allah tidak pernah berhenti
mendengar doa-doa hamba-Nya yang selalu meminta pertolongan-Nya dan tidak ada
yang tidak mungkin di dunia ini apabila Allah telah berkehendak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment